Otak tagged posts

Cara mempererat hubungan dengan mempelajari ilmu pengetahuan otak

ilmu pengetahuan otak

Otak kita merupakan tempat dimana Anda memahami, mengerti, mengingat, mengevaluasi, berkeinginan dan merespon orang-orang. Ada fakta yang sedikit aneh namun ini kenyataan: orang-orang yang ada disekitar kita adalah produk dari siapa diri mereka dan kita pikirkan terhadap mereka. Kalau kita mengerti bahwa sebuah hubungan dapat mempengaruhi otak kita, mungkin kita bisa mengubah cara otak kita berinteraksi dengan orang lain.

Transference

Transference (pemindahan)merupakan fenomena psikologis dimana seseorang mengaktifkan atau teringat dengan kejadian yang pernah terjadi sebelumnya. Akhirnya, kita bisa secara tidak sadar mengulang konflik yang telah terjadi pada masa lalu, yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan hubungan yang sedang jalani saat ini.

Contohnya, Anda sedang liburan bersama teman kantor dan menjadi bete kepada rekan Anda karena berbicara dengan nada tinggi kepada Anda dan diluar proporsi yang seharusnya dikatakan. Ketahuilah bahwa mungkin rekan Anda teringat oleh konflik masa lalu yang terjadi kepada mereka sehingga konflik ini terekam dan menjadi dasar prediksi di otak mereka tanpa mereka sadari.

Lalu apa yang bisa Anda lakukan?

Untuk menghindari situasi seperti itu, lakukan refleksi diri. Tanya kepada diri sendiri “apakah ini benar-benar tanggapan untuk hal tersebut atau saya telah mencampurnya dengan konflik di masa lalu?” Hal ini juga dapat dijadikan sebuah diskusi yang menarik ketika Anda ingin menyelesaikan konflik.

Emosi yang menular

Emosi kita bisa ditularkan dengan mudah kepada orang lain tanpa kita sadari. Hal ini juga bisa terjadi dalam ranah jejaring sosial tanpa interaksi dalam dunia nyata atau isyarat non-verbal.

Berinteraksi dengan grup yang negatif misalnya, maka ada kemungkinan Anda ikut merasa negatif pula.

Sebaliknya, jika Anda berinteraksi dengan grup yang positif, maka Anda akan dapat merasakan sisi positif itu juga. Namun permasalahannya, emosi negatif lebih cepat ditularkan ketimbang emosi positif. Hal ini harusnya menjadi salah satu keuntungan kita, tetapi terkadang bisa menganggu dinamika hubungan dengan pasangan. Hal ini membawa keuntungan bagi kita karena kita dengan mudah menangkap emosi seseorang, namun sayangnya emosi ini dapat merusak sebuah hubungan.

Semua ini disebabkan oleh mirror neurons atau saraf cermin yang tugasnya menangkap emosi dari orang lain.

Apa yang bisa  Anda lakukan?

Ketika Anda sedang berinteraksi secara online, pastikan bahwa Anda tahu apakah konten yang dilihat akan berpengaruh ke mood Anda. Jangan terburu-buru ikut arus dan bijaksana dalam menyikapi sebuah kalimat di dalam percakapan secara online.

Dalam berinteraksi dengan teman-teman atau pasangan, hati-hati dalam menangkap emosi mereka karena dapat membuat Anda terbawa suasana, bahkan ketika sebenarnya Anda tidak sedang merasakan hal yang negatif.

Empati kognitif

Ketika Anda bernegosiasi dengan orang lain, mungkin Anda merasa akan terbantu jika merefleksikan emosi mereka. Namun dalam berbagai kesempatan, menggunakan empati kognitif terbukti lebih efektif dalam bercakapan karena lawan bicara Anda merasa didengarkan dan tidak menjadi defensif.

Apa yang bisa Anda lakukan?

Ketika Anda mencoba untuk menyelesaikan konflik, cobalah untuk menggunakan empati kognitif daripada empati emosional. Empati kognitif memungkinkan Anda untuk berinteraksi dan merefleksikan permasalahan yang terjadi sehingga Anda memahami apa yang mereka katakan namun secara emosional, Anda tidak terpengaruh.

Empati secara kognitif membuat Anda dapat mengulang kalimat mereka sesuai dengan pemahaman tanpa mengubah artinya sehingga tidak terjadi salah paham.

Hal ini menimbulkan rasa saling mengerti satu sama lain dan mengurangi kemarahan. Begitulah bentuk dari empati kognitif, yaitu mengindikasikan rasa saling memahami dan mengerti keadaan yang sedang mereka jalani.

Read More