10 Mitos Seputar Pencernaan Yang Banyak Beredar

mitos fakta pencernaan manusia

Salah satu gangguan kesehatan yang kerap membatasi aktivitas harian adalah masalah pencernaan. Jangan heran jika ada banyak teori dan informasi seputar penyebab dan cara mengatasi masalah pencernaan ini di masyarakat. Namun, Anda tetap harus waspadai karena banyak pula mitos yang tersebar di antara informasi-informasi tersebut.

1. Pencernaan Permen Karet Membutuhkan Waktu Bertahun-Tahun
Bagi Anda yang pernah mendengar informasi bahwa permen karet dapat dicerna dalam waktu yang lama, hal ini jelas perlu diluruskan. Faktanya, kandungan karet pada permen memiliki sifat yang kebal terhadap enzim pencernaan. Dengan kata lain, permen karet tidak dapat dipecah dan dicerna oleh organ-organ pencernaan dalam waktu lama sekalipun. Bahkan, asam lambung pun tidak mampu untuk memecah serta mencerna permen karet.

2. Makanan Pedas Menyebabkan Maag
Para pecinta makanan pedas seharusnya lega karena anggapan mengenai makanan pedas yang berbahaya untuk lambung hanyalah sebuah mitos. Pasalnya, luka atau iritasi pada lapisan perut dapat terjadi karena adanya infeksi bakteri yang disebut Helicobacter pylori (H. pylori). Selain itu, penyebab lain yang juga kerap diacuhkan adalah asupan obat penghilang rasa sakit, seperti aspirin, ibuprofen, atau naproxen. Mungkin makanan pedas dapat memperparah kondisi ini. Akan tetapi, makanan pedas bukanlah penyebabnya.

3. Mengangkat Beban Berat Mengakibatkan Hernia
Hernia atau yang juga populer dengan sebutan ‘turun berok’ banyak dikaitkan dengan kebiasaan mengangkat beban berat. Mungkin ini merupakan salah satu penyebabnya, tetapi perlu diingat bahwa penyebab hernia bukan hanya kebiasaan mengangkat beban berat. Hernia juga bisa terjadi akibat konstipasi kronis atau batuk.


4. Hanya Pecandu Alkohol yang Mengalami Sirosis
Memang benar bahwa terlalu banyak mengonsumsi alkohol dapat menyebabkan sirosis, atau suatu kondisi di mana sel-sel hati rusak dan digantikan oleh jaringan parut. Meskipun begitu, masih ada penyebab lain yang harus Anda waspadai, seperti hepatitis B dan C. Walaupun minum terlalu banyak hampir selalu menyebabkan masalah pada kerusakan hati, masalah ini tidak selalu mengarah pada sirosis.

5. Kacang-kacangan Menyebabkan Divertikulitis
Dulu, kebanyakan dokter akan menganjurkan pasien dengan kondisi divertikulitis, di mana kantong-kantong di dinding usus besar meradang dan terinfeksi, untuk menghindari mengonsumsi kacang-kacangan, jagung, popcorn, dan makanan dengan biji-biji kecil, seperti stroberi atau kiwi. Hal ini disebabkan rasa takut jika potongan-potongan makanan ini akan menempel di kantong dan menyebabkan rasa sakit. Namun, studi terbaru menunjukkan sebaliknya. Asupan kacang-kacangan dan buah-buahan berserat tinggi akan membantu seseorang terhindari dari masalah pencernaan ini.

6. Kacang Menyebabkan Perut Bergas
Jika Anda sering menghindari kacang untuk mengatasi perut yang bergas, hal itu akan percuma. Sebab, kacang bukanlah penyebab perut Anda menjadi bergas. Sebaliknya, beragam produk susu terbukti menyebabkan lebih banyak gas daripada makanan lain, terutama seiring bertambahnya usia dan berkurangnya kemampuan tubuh dalam menyerap gula dalam susu (laktosa). Untuk meredakan masalah, carilah produk yang bebas laktosa atau minum obat laktase yang dijual bebas sebelum Anda mengonsumsi makanan dengan kandungan susu.

7. Merokok Meredakan Mulas
Banyak orang menganggap bahwa merokok dapat meredakan rasa mulas. Padahal, merokok sebenarnya dapat menambah gejolak di perut dan meningkatkan rasa mulas. Nikotin dapat merilekskan otot di bagian atas perut Anda yang menjaga percikan asam (refluks) kembali ke kerongkongan Anda. Semakin banyak refluks asam akan meningkatkan rasa mulas.

8. Pertambahan Usia Menyebabkan Sembelit
Orang-orang memang cenderung mengalami sembelit seiring bertambahnya usia, tetapi tubuh yang menua itu sendiri tidak bisa dianggap menjadi penyebab. Orang dewasa yang lebih tua sering menggunakan obat-obatan yang dapat membuat saluran pencernaan lamban. Mereka juga cenderung kurang berolahraga, tidak lagi menjaga makan dengan baik, dan kurang minum cairan, yang semuanya dapat berisiko mengakibatkan sembelit.

9. Serat Tidak Berpengaruh pada Keluhan Diare
Pada awalnya, memang terdengar tidak masuk akal bahwa serat, yang sangat terkenal untuk memperbaiki sembelit, juga dapat membantu diare dengan masalah pencernaan yang bertolak belakang. Sayangnya, hal ini adalah fakta yang tidak bisa dibantahkan. Nutrisi serat dapat membantu menjaga tinja agar tidak terlalu keras atau terlalu longgar. Ia bekerja dengan cara menarik lebih banyak air dari usus besar untuk melonggarkan tinja (pada sembelit) atau menyerap sebagian cairan di usus untuk mengencangkannya (pada diare).

10. Kanker Usus Memiliki Gejala yang Jelas
Anggapan ini merupakan sebuah mitos. Faktanya, kanker usus besar seringkali tidak menampakkan gejala hingga benar-benar berada di tahap yang serius. Itulah sebabnya deteksi dini untuk kanker usus sangat penting. Secara umum, kebanyakan orang berisiko harus mulai melakukan pengujian pada usia 50. Pemeriksaan kolorektal rutin akan mencakup tes feses setiap tahun, sigmoidoskopi fleksibel setiap 5 tahun, CT scan usus besar setiap 5 tahun, atau kolonoskopi setiap 10 tahun. Bicaralah dengan dokter Anda tentang mana yang tepat untuk Anda.

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>