Mengatasi Disfungsi Ereksi dengan Implan Penis

Di Amerika Serikat, teknologi implan penis sebetulnya sudah dikembangkan sejak tahun 70an. Secara sederhana, prosedur ini digambarkan dengan menanamkan alat medis atau implan ke dalam penis.

Mengapa sampai diperlukan implan? Tindakan ini hanya dilakukan pada pria-pria yang memiliki masalah disfungsi ereksi.

Tentang implan penis dan disfungsi ereksi

Penile prosthesis atau implan penis tidak akan dilakukan secara sembarang, tindakan ini hanya direkomendasikan kepada pria dengan disfungsi ereksi yang parah. Itu pun dengan syarat prosedur medis lain sudah dicoba dan tidak memberikan hasil yang memuaskan.

Penis memiliki dua saluran untuk ereksi, yang akan bereaksi ketika ada rangsangan seksual. Dalam keadaan penis yang sehat, saat ada rangsangan, darah akan mengalir ke dalam dua saluran tersebut sehingga penis ereksi. Namun, bila penis dalam keadaan tidak sehat, maka dapat terjadi disfungsi ereksi.

Disfungsi ereksi sendiri cukup beragam, bisa berupa ketidakmampuan mempertahankan ereksi cukup lama hingga ketidakmampuan untuk mencapai ereksi.

Nah, pada kasus demikian implan dapat ditanamkan ke dalam saluran ereksi yang tidak berfungsi normal tersebut. Implan ini berbentuk seperti tabung yang tipis dan memanjang.

Pemasangan implan penis bukanlah untuk mengalirkan darah, nantinya implan tersebut akan dialiri cairan sehingga penis dapat ereksi. Jenis implan yang dipasang bisa semirigid atau inflatable. Khusus jenis implan inflatable, tabung tersebut dapat dikembangkan dan dikempiskan. Masing-masing jenis implan ini tentu memiliki kelebihan dan kekurangan, pemilihannya dapat didiskusikan dengan dokter.

Karena implan tersebut bukan menjadi saluran darah, maka alat ini perlu dipasang serangkaian dengan reservoir yang ditanam di perut serta sejenis “pompa” yang disimpan di dalam skrotum. Ketika pompa tersebut disentuh maka cairan dari reservoir akan mengalir ke dalam implan dan terjadilah ereksi.

Keseluruhan rangkaian implan penis ini akan dipasang atau ditanam ke dalam tubuh pasien melalui prosedur pembedahan atau operasi.

Tindakan implan penis tidak untuk semua orang

Nyeri setelah pembedahan tentu menjadi efek yang tidak dapat dihindari dari prosedur implan penis ini. Belum lagi kemungkinan adanya dampak dari pemasangan alat, walaupun alat yang digunakan sudah menggunakan bahan-bahan yang memiliki tingkat alergi sangat rendah bagi tubuh.

Tentu hal-hal tersebut perlu menjadi pertimbangan Anda, sebelum menjalani penile prosthesis. Selain itu, risiko infeksi pasca pembedahan, risiko perdarahan, perubahan ukuran penis menjadi lebih pendek, hingga hilangnya sensasi atau fungsi sensorik penis, juga perlu menjadi variabel yang Anda pertimbangkan.

Di samping segala risiko dan dampak yang tidak diharapkan dari prosedur ini, tindakan implan penis memang tidak dapat dilakukan oleh semua orang. Dokter tidak akan merekomendasikan prosedur ini kepada Anda yang memiliki infeksi paru-paru atau infeksi saluran kemih.

Anda yang menderita diabetes mellitus dan tidak mengonsumsi obat secara teratur juga kecil kemungkinan akan disarankan menjalani tindakan ini. Apalagi bila Anda mengalami kesulitan pengeringan luka akibat diabetes yang Anda derita.

Perlu diingat, tindakan implan penis hadir sebagai salah satu pilihan dan umumnya menjadi pilihan terakhir setelah prosedur medis lain tidak dapat menjadi solusi. Tindakan ini juga hanya ditujukan pada kasus disfungsi ereksi yang parah, bukan situasional.

Sebagai contoh, Anda mengalami disfungsi ereksi karena sedang berkonflik dengan pasangan. Hal ini bersifat situasional. Ketika situasi sudah tenang kembali dan persoalan selesai, kemungkinan masalah disfungsi ereksi pun akan hilang.

Tags:  

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>